Monday, 26 January 2015

APLIKASI TEORI MULTIPLE INTELLIGENCES

APLIKASI TEORI MULTIPLE INTELLIGENCES
Wednesday, 14. February 2007, 04:03
Abstrak

Teori “kecerdasan puspadimensi” (multiple intelligences) telah meyakinkan setiap pendidik bahwa setiap nara didik adalah anak yang cerdas, menurut jenis kecerdasan yang dimiliki sebagai bawaan lahir atau pun yang berkembang sebagai hasil pendidikan dalam budaya. Teori ini penting diaplikasikan dalam pendidikan di Sekolah Minggu, supaya anak-anak Kristen yang dididik di Sekolah Minggu bukan saja mengalami pertumbuhan iman (“kecerdasan spiritual”), tetapi juga cerdas dalam dimensi-dimensi lain sebagai pemberian-pemberian Allah yang sama. Teori ini memberi sumbangan penting dalam penyusunan kurikulum Sekolah Minggu mutakhir, seperti halnya ilmu psikologi perkembangan dan teori penyusunan kurikulum.

Kata-kata Kunci

Multiple intelligences, Howard Gardner, kecerdasan logika matematik, personal (interpersonal dan intrapersonal), linguistik, spasial, musikal, gerak tubuh, psikologi perkembangan, kurikulum, Sekolah Minggu, aplikasi, iman, kecerdasan spiritual, unik, otentik.

1. Pendahuluan

Bagi banyak orang Kristen, Sekolah Minggu merupakan bagian penting yang tidak bisa dilewatkan dalam proses pendidikan iman Kristen. Bahkan sepertinya banyak yang setuju bila Sekolah Minggu dianggap sebagai basis pendidikan iman Kristen yang paling konsisten dan populer sampai saat ini. Masalahnya tidak sesederhana itu ketika Sekolah Minggu dianggap sebagai proses pembelajaran iman Kristen yang dasariah, dan mampu membahas masalah-masalah iman Kristen sedini mungkin, ternyata bingkai pemikirannya sudah mulai usang.

Dari dulu sampai sekarang masih saja proses pembelajarannya cenderung menempatkan pengajar atau nara sumber atau guru Sekolah Minggu sebagai “tokoh tunggal”. Peran ini sekaligus mengecilkan kemampuan nara didik untuk menemukan dan mengajukan ide-idenya sendiri. Fenomena seperti ini semakin menguatkan anggapan bahwa memang pengajaran di Sekolah Minggu berseberangan dengan nilai-nilai pendidikan. Konsep dan teori tentang pertumbuhan anak memang sudah banyak dipahami dan diterapkan, namun bagaimana dengan peran nara didik? Adakah pengajar atau guru lebih memaksakan apa yang menurut dia baik? Lalu di mana tempat bagi pemikiran nara didik yang sebetulnya bisa sangat kreatif dan unik? Apakah nara didik memang seperti kertas kosong yang tidak punya arti apa-apa, dan baru berarti ketika guru atau pengajar memberi warna atau tulisan pada kertas kosong itu? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mungkin sudah banyak dijawab, bahkan sudah menjadi agenda seminar-seminar guru Sekolah Minggu yang akhir-akhir ini nyatanya sangat diminati oleh para guru atau pemerhati Sekolah Minggu. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini juga seyogianya mendorong gereja untuk lebih sungguh-sungguh lagi memikul tanggungjawabnya di dunia pendidikan. Gereja adalah suatu lembaga pedagogis, yang bertanggungjawab untuk menyelenggarakan kegiatan pendidikan. “The Church must teach…or it will not be the Church,” kata James Smart. (Note 1)

Mengapa gereja wajib mengajar dan mendidik? Pertama, karena kehidupan Yesus Kristus sendiri sarat dengan kehidupan yang penuh pengajaran (Christ expects it); kedua, karena Injil atau berita kesukaan merupakan bahan pengajaran yang perlu diajarkan kepada semua orang melalui proses pendidikan (the Gospels demands it); karena, ketiga, gereja ada karena sejarah membuktikan bahwa persekutuan umat merupakan kunci pertumbuhan dan perkembangan gereja (history proves it); dan keempat, karena tidak bisa dipungkiri bahwa manusia membutuhkan proses pendidikan untuk menjadi seseorang yang beriman (people need it).(Note 2) Dengan demikian, adalah tugas yang makin mendesak untuk gereja-gereja melahirkan sebuah kurikulum pendidikan.

Tulisan ini bermaksud untuk memberikan masukan-masukan kreatif kepada gereja-gereja dalam usaha membenahi Sekolah Minggu di tempat masing-masing. Teori multiple intelligences (MI) yang digagas oleh Howard Gardner akan menjadi kerangka teoretis untuk merancangbangun suatu paradigma atau model pembelajaran di Sekolah Minggu sebagai tempat belajar yang lebih menghargai kemampuan dan kreativitas nara didik sebagai anak-anak yang sudah dianugerahkan kecerdasan-kecerdasan oleh Tuhan. Yang akan diajukan dalam tulisan ini bukanlah suatu blueprint kurikulum lengkap Sekolah Minggu, melainkan implikasi dan aplikasi teori MI bagi kegiatan belajar-mengajar nara didik di Sekolah Minggu.

2. Sekolah Minggu, Dulu dan Sekarang: Catatan-catatan Ringkas

Bila dipetakan secara luas, maka Sekolah Minggu memang merupakan fase penting dalam sejarah pendidikan Kristen. Anggapan ini perlu mendapatkan perhatian khusus sebab Sekolah Minggu memang merupakan wadah belajar yang akarnya sudah tumbuh sejak abad 18, sehingga sangat mustahil membicarakan pendidikan iman Kristen dengan mengabaikan Sekolah Minggu.

Adalah Robert Raikes (1735-1811) pelopor gerakan belajar bagi anak-anak terlantar yang awalnya dibina untuk belajar membaca, menulis, dan berhitung.(Note 3) Era revolusi industri yang begitu mengagung-agungkan mesin sebagai sarana produksi yang paling unggul ketimbang manusia, menjadi salah satu latar belakang penting bagi begitu banyak pengangguran dan anak-anak terlantar. Tenaga hewan dan manusia tidak lagi memiliki peran penting dalam sistem perekonomian waktu itu. Di mana-mana tumbuh pabrik yang mengandalkan mesin dalam proses produksinya. Kenyataan ini semakin memperburuk situasi sosial masyarakat. Interaksi antar manusia dalam jaringan produksi diganti oleh mesin. Manusia hanya dibutuhkan oleh mesin sebagai pelengkap supaya mesin bisa berjalan dengan baik, sehingga banyak warga masyarakat yang berbondong-bondong menjadi buruh pabrik di kota-kota. Revolusi industri adalah suatu akibat dari “proyek besar” zaman Pencerahan yang di satu sisi sangat membantu manusia untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, namun di sisi lainnya membuat kesenjangan sosial antara kaum berpunya dan kaum tidak berpunya semakin tajam. Hampir di setiap aspek kehidupan, mereka yang memiliki modal mendapatkan rasa nyaman dan aman. Sebaliknya, kaum buruh hanya menjadi bagian dari mesin produksi; ini memunculkan generasi muda yang terlantar, putus sekolah dan kehilangan masa kanak-kanak yang menyenangkan. Sekolah pun bagian dari modal besar yang menguntungkan secara ekonomis, sehingga tidak ada lagi peluang bagi orang-orang miskin untuk belajar di sekolah.(Note 4)

Sebagai penerbit Gloucester Journal, Raikes tidak sedang membuat proyek besar untuk bersaing dengan pabrik-pabrik. Ia hanya mendirikan semacam “sekolah sederhana” di sebuah ruangan yang disewa sendiri. Raikes memberi insentif pada para sukarelawan yang mau bekerja membantu Raikes sebagai guru. (Note 5) Gagasan Raikes sebenarnya sangat sederhana, yaitu bagaimana anak-anak yang terlantar, pengangguran yang nakal dan liar, bisa mengisi waktu mereka dengan belajar. Di sini sebenarnya usaha Raikes tidak terlalu istimewa, namun komitmen penuh untuk mendirikan lembaga pendidikan bagi kaum miskin menjadikan Raikes sebagai seorang tokoh penting dalam sejarah pendidikan Kristen. Usaha Raikes sempat dianggap sebagai usaha radikal yang dipandang para borjuis sebagai usaha yang menyimpan bahaya laten, yakni bahaya revolusioner.(Note 6) Namun tudingan seperti itu tidak mampu membendung pertumbuhan sekolah yang memang diadakan setiap hari Minggu dan tetap mempertahankan pelajaran membaca, menulis, agama dan berhitung.(Note 7) Usaha Raikes membawa dampak yang luar biasa bagi pertumbuhan dan perkembangan Sekolah Minggu. Bahkan penting untuk dicatat, bahwa Sekolah Minggu pada awalnya memiliki keprihatinan sosial yang tinggi, sebab Sekolah Minggu sebagai sekolah sederhana didirikan oleh Raikes untuk menjawab masalah sosial yang menyebabkan dehumanisasi besar-besaran sebagai akibat dari proyek Revolusi Industri.

Lalu bagaimana dengan Sekolah Minggu di Indonesia? Awalnya, Sekolah Minggu yang dibawa oleh para pekabar Injil dari Belanda berada di luar struktur gereja, dan bahan-bahan pengajarannya hanya diambil dari Alkitab. (Note 8) Perkembangannya sempat terhambat akibat politik Jepang yang menutup semua kegiatan atau usaha-usaha apa pun yang berkaitan dengan agama Kristen.(Note 9) Politik Jepang bisa dipahami karena waktu itu kekristenan dianggap sebagai bagian dari kekuatan pengaruh Belanda di Indonesia. Pengaruh politik Jepang sekalipun membawa dampak bagi perkembangan Sekolah Minggu, tidak berlangsung lama. Memasuki periode penting dalam sejarah nasional bangsa, yaitu kemerdekaan, perkembangan kekristenan belum bisa dikatakan berjalan dengan baik. Kebutuhan tenaga pendeta dan guru yang tadinya mengajar Sekolah Minggu menjadi sangat penting bagi gereja. Akibatnya, Sekolah Minggu kekurangan tenaga pendidik; dan hal ini mendorong usaha untuk mengundang siapa saja yang bisa mengajar Sekolah Minggu untuk mengajar, meskipun mereka tidak memiliki pengalaman sebagai pendeta atau pengajar.(Note 10) Keadaan seperti ini mendorong usaha-usaha pencarian model Sekolah Minggu yang baik dengan kurikulum yang relevan serta didukung tenaga pengajar yang memadai secara kualitatif dan kuantitatif. Usaha pencarian ini memperoleh titik terang dengan terselenggaranya Konferensi Studi Pendidikan Agama di Sukabumi, 20 Mei-10 Juni 1955. Ada beberapa agenda penting tentang Sekolah Minggu yang dibahas pada konferensi tersebut, seperti: upaya-upaya menyelenggarakan kursus kader pemimpin Sekolah Minggu serta konferensi-konferensi guru Sekolah Minggu, mendatangkan ahli atau mengirimkan seorang teolog untuk belajar ke luar negeri guna mendidik dan melatih kader-kader, menjadikan jabatan guru Sekolah Minggu sebagai jabatan yang dihargai dan diperhatikan jemaat dan menekankan kepentingan upacara pelantikan guru Sekolah Minggu.(Note 11) Tampak telah terjadi perubahan mendasar. Sekolah Minggu yang tadinya hanya merupakan kegiatan di luar institusi gereja, mulai konferensi di Sukabumi itu, dijadikan bagian integral gereja yang memiliki jati diri sebagai persekutuan belajar-mengajar.(Note 12)

Usaha-usaha sistematis untuk menyelenggarakan Sekolah Minggu sebagai bagian dari pendidikan Kristen mulai kelihatan dengan adanya kurikulum yang dihasilkan melalui diskusi di Wisma Oikumene, Sukabumi, 12 Juni-4 Juli 1963, yang diadakan oleh Komisi Pendidikan Agama Kristen Dewan Gereja-gereja Indonesia (KOMPAK DGI). Ada empat tema besar yang dihasilkan dalam diskusi yang dihadiri oleh utusan gereja-gereja di Indonesia tersebut, yaitu: Yesus Kristus, Gereja, Alkitab, dan Allah.(Note 13) Memang tidak ada penjelasan mengapa tema-tema itu dipilih sebagai dasar pembentukan kurikulum; namun paling tidak dari ke empat tema itu bisa dilihat arah teologi gereja-gereja di Indonesia yang berusaha memperkuat dasar-dasar iman Kristen sedini mungkin. Penekanan pada empat tema besar itu bisa juga dilihat sebagai upaya awal untuk memperkokoh eksistensi gereja-gereja di Indonesia dalam konteks bermasyarakat dan bernegara. Tema-tema itu diolah sedemikian rupa untuk kemudian diajarkan bagi lima golongan usia, yaitu Taman Kanak-kanak (4-5 tahun); Anak Kecil (6-9 tahun); Anak Tanggung (9-12 tahun); Remaja Muda (13-15 tahun); dan Remaja Tua (16-18 tahun).

Selanjutnya tidak ada perkembangan penting yang perlu dicatat dalam perkembangan Sekolah Minggu di Indonesia. Perubahan hanya di sekitar penyesuaian kurikulum dan usaha-usaha struktural untuk menempatkan Sekolah Minggu sebagai bagian integral dari gereja. Mutu pengorganisasian Sekolah Minggu pada tingkat sinode sampai jemaat mendapat perhatian khusus pada Konsultasi Nasional Pemimpin Sekolah Minggu Gereja-gereja Anggota PGI di Cipayung yang diselenggarakan oleh Departemen Pembinaan dan Pendidikan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (BINDIK PGI), 19-24 Nopember 1990. Pokok yang dibahas hanyalah masalah pengorganisasian Sekolah Minggu; namun perihal perubahan mendasar kurikulum yang relevan bagi Indonesia tidak dibahas secara khusus. Jadi bisa dikatakan bahwa walaupun Sekolah Minggu secara eksistensial sudah menjadi bagian integral dari gereja-gereja di Indonesia dengan pengorganisasian yang semakin baik, namun masih ada kekurangan yang harus dicatat. Tuntutan serius untuk meningkatkan kurikulum yang menempatkan para nara didik sebagai subyek-subyek yang mampu berkreativitas dan menyatakan ide-ide kritis mereka sendiri, tidak terlalu mendapatkan perhatian. Hemat penulis, di sinilah letak signifikansi teori MI yang bisa memberikan cakrawala baru bagi penyusunan kurikulum mutakhir Sekolah Minggu yang lebih relevan bagi kebutuhan pendidikan Kristen saat ini.

3. Manusia Makhluk Unik, Utuh dan Mandiri

Penerimaan pada keunikan, otentisitas dan kemandirian setiap individu manusia melandasi teori MI. Setiap manusia, dalam keunikan, otentisitas dan kemandirian masing-masing, oleh teori ini dipandang sebagai makhluk cerdas. Dengan teori ini, Gardner sebenarnya sedang memberikan ruang bagi setiap orang untuk dengan bangga memahami dirinya sendiri dan orang lain sebagai entitas-entitas yang unik, otentik dan mandiri, yang memiliki kecerdasan sendiri-sendiri. Gardner mengajak para pendidik untuk memberanikan diri masuk ke dalam ruang-ruang individu masing-masing nara didiknya dan menemukan dan membantu menumbuhkembangkan kecerdasan mereka masing-masing.

Memahami keunikan dan otentisitas manusia dengan segala kompleksitasnya sebenarnya merupakan bagian dari bagaimana manusia memahami Allah. Dalam tradisi alkitabiah Yahudi-Kristen, Allah adalah Allah yang esa, unik dan utuh, tidak terbagi dan terpecah, pada diri-Nya sendiri. Allah ini dipandang dan dipercaya berbeda dari ilah-ilah bangsa-bangsa lain; Allah Israel adalah unik, tersendiri, satu-satunya, dan tidak ada yang lain yang setara dengan Allah Israel. Allah ini otentik pada diri-Nya sendiri, sebab Allah ini bukan tiruan yang dibuat manusia berdasarkan gambar ilah-ilah lainnya, tetapi Allah yang hidup, yang dikenal melalui penyataan diri-Nya sendiri di dalam sejarah umat Israel dan di dalam kehidupan Yesus dan sejarah gereja.

Sebagai gambar dan rupa Allah, manusia juga adalah makhluk yang unik, tersendiri, tidak ada yang sama dengannya dari antara seluruh ciptaan lainnya. Tindakan manusia “memberi nama” pada makhluk-makhluk menunjukkan bahwa dalam karya ilahi setiap makhluk itu unik dan karenanya perlu memiliki nama sendiri-sendiri. Manusia unik karena setiap manusia memiliki kepribadian yang khas, yang berbeda dari manusia lainnya, dan bukan jiplakan dari manusia lainnya. Pasangan manusia kembar pun memiliki keunikan masing-masing. Manusia juga diciptakan utuh pada dirinya sendiri. Segala kapasitas dalam dirinya, bawaan lahir maupun hasil bentukan budaya, membentuk satu kesatuan utuh yang tidak boleh dipisah-pisahkan. Ke dalam diri Adam/manusia, Allah menghembuskan nafas hidup, sehingga nafas hidup Allah sendiri berada di dalam manusia, yang memungkinkan dirinya membangun relasi spiritual dengan Allah. Manusia juga diberi daya cipta kreatif dan tenaga supaya dapat melakukan tindakan-tindakan kultural memelihara dan mengusahakan lahan kehidupannya; untuk dapat membangun jalinan kasih interrelasional yang mempersatukan diriya dengan mitranya yang sepadan, Hawa, ibu yang hidup dari segenap manusia. Semua kemampuan ini terpadu dalam diri manusia sebagai ciptaan Allah yang diberi tugas-tugas untuk dipikulnya.

Dilihat dari perspektif filosofis dan psikologis, manusia juga unik. Keunikannya tampak dalam kemampuannya untuk memahami dan menelusuri eksistensinya sendiri; untuk mampu mengambil jarak, bertransenden, terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya, sesuatu yang tidak terdapat dalam diri hewan. Kemampuan ini memungkinkan manusia berpandangan obyektif terhadap apa yang ada di luar dirinya. Di dalam dirinya, jiwa, roh dan badan menyatu; manusia adalah makhluk yang utuh dan mempunyai struktur mental dan fisik yang mandiri, yang berbeda dari makhluk-makhluk lainnya. Manusia juga otentik, memiliki keaslian, yang tidak dipunyai makhluk lain. Sekalipun struktur DNA manusia mirip dengan struktur DNA gorilla, namun manusia bukan gorilla; manusia memiliki otentisitas yang khas, yang tampak misalnya dalam akal budi yang dipunyai dan dalam keinginan sadarnya untuk meneliti dan mendalami, untuk makin mengetahui dan menjangkau realitas-realitas tanpa batas. Otentisitas dan keunikan manusia juga terlihat dalam kenyataan bahwa seorang manusia itu bukanlah salinan dari manusia lain; seorang manusia bukanlah fotokopi individu lain. Manusia adalah manusia pada keadaannya yang apa adanya, yang unik, otentik dan mandiri.

Perspektif-perspektif di atas menimbulkan implikasi pada penyelenggaraan pendidikan di Sekolah Minggu. Setiap nara didik di dalam Sekolah Minggu harus diperlakukan sebagai manusia-manusia yang, kendati pun masih muda usia, memiliki keunikan dan otentisitas masing-masing yang harus dihargai dan dikembangkan. Setiap anak didik dianugerahi Tuhan jenis-jenis kecerdasan tertentu. Adalah tugas guru Sekolah Minggu untuk dapat menemukan jenis kecerdasan setiap muridnya; dan membantu nara didik untuk dapat mengembangkan kecerdasan yang mereka miliki. Dengan demikian, fokus kepada nara didik haruslah ditonjolkan dalam setiap kegiatan pendidikan; yang lain-lainnya, bahan pembelajaran misalnya, harus melayani fokus ini.

4. Teori Multiple Intelligences dan Aplikasinya bagi Pendidikan Sekolah Minggu

Nama Howard Gardner tidak terlalu sulit ditemukan dalam jajaran penulis-penulis kontemporer. Apalagi bagi orang yang sangat berminat memahami manusia sebagai makhluk yang cerdas, manusia sebagai struktur utuh yang bisa menampilkan keunikan dirinya. Sebagai seorang profesor pendidikan di Universitas Harvard, Gardner tentunya memiliki sejumlah alasan, mengapa kecerdasan itu penting. Mengapa eksistensi manusia sebagai makhluk berpikir yang tentunya memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya, selalu menarik untuk dibicarakan? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti ini tentunya tidak saja ditemukan dalam teori Gardner; para filsuf pendidikan serta pakar di bidang psikologi pasti sudah lebih dulu membedah manusia sebagai makhluk cerdas yang unik.

Namun paling tidak Gardner telah membuat semacam skema MI yang dapat memberikan landasan kuat untuk mengidentifikasi dan mengembangkan spektrum kemampuan yang luas dalam diri setiap anak.(Note 14) Kemampuan setiap orang yang unik ini merupakan kecerdasan itu sendiri; artinya: kecerdasan itu tidak hanya sekadar kemampuan mengingat dan menyerap informasi sebanyak-banyaknya, atau kemampuan mengoperasikan dengan baik hitungan matematis. Bagi Gardner, kecerdasan tidak sesempit anggapan umum seperti itu; melainkan banyak ragamnya (multiple). Kecerdasan juga tampak di dalam kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di dalam kehidupan manusia, di dalam kemampuan untuk menghasilkan persoalan-persoalan baru untuk diselesaikan, serta di dalam kemampuan untuk menciptakan suatu produk yang berguna.(Note 15) Berbagai kecerdasan itu menurut Gardner adalah:

1) Kecerdasan linguistik
2) Kecerdasan musikal
3) Kecerdasan logika matematika
4) Kecerdasan spasial
5) Kecerdasan gerak tubuh
6) Kecerdasan personal

4.1 Kecerdasan linguistik(Note 16)

Kecerdasan linguistik dipahami sebagai kemampuan menggunakan sistem bahasa manusia untuk berkomunikasi, atau kemampuan berpikir dalam bentuk kata-kata dan menggunakan bahasa untuk mengekspresikan dan menghargai makna yang kompleks. Kecerdasan semacam ini biasanya dimiliki oleh pengarang, penyair, jurnalis, orator, pelawak, penyiar berita, atau pun politisi. Kecerdasan linguistik biasanya tampak di masyarakat dalam beberapa aspek, seperti retorika, yaitu kemampuan menggunakan bahasa untuk meyakinkan orang lain; mnemonik, yaitu kemampuan untuk membantu orang lain mengingat berbagai macam informasi; penjelasan, yaitu kemampuan untuk menjelaskan/mengajar; dan metalinguistik, yaitu kemampuan menggunakan bahasa untuk membuat refleksi atas bahasa itu sendiri. Bagi Gardner, kecerdasan linguistik sudah bisa dikembangkan mulai masa kanak-kanak dengan latihan-latihan. Misalnya dengan mendengar dan merespon setiap suara, ritme, warna, serta berbagai ungkapan kata. Atau bisa juga dengan menunjukkan minat jurnalisme, puisi, bercerita, debat, menulis, atau menyunting. Kemampuan seperti ini bisa dilatih mulai dengan hal-hal yang sederhana seperti membaca, meniru tulisan, menafsirkan, meniru kata-kata, dan sebagainya.(Note 17)

Karena setiap nara didik potensial memiliki kecerdasan linguistik, maka kegiatan pembelajaran di dalam kegiatan pendidikan di Sekolah Minggu seyogianya mencakup aktivitas-aktivitas dan latihan-latihan yang dapat membantu setiap nara didik mengembangkan kecerdasan jenis ini. Misalnya, murid-murid diatur untuk secara bergilir dan berkala mempersiapkan puisi-puisi, atau karangan-karangan pendek buatan mereka sendiri, yang mereka harus presentasikan di depan kelas pada giliran mereka masing-masing. Sebuah ayat hafalan diberikan pada akhir setiap proses pendidikan, dengan murid-murid diberi kewajiban untuk menghafal dan melafalkannya di depan kelas pada hari Minggu berikutnya. Ayat hafalan diberikan bukan hanya supaya nara didik bisa memegang inti bahan pembelajaran yang sudah atau akan diberikan atau supaya mereka mengenal isi Alkitab secara perlahan-lahan dan bertahap, tetapi juga supaya kecerdasan linguistik mereka dikembangkan. Pemeragaan sebuah cerita Alkitab juga dapat dilakukan dengan mempertalikan cerita dengan sebuah nyanyian Sekolah Minggu. Murid-murid bersama guru-guru mereka membawakan nyanyian itu dengan sambil menari, mengikuti nada, irama dan ritme nyanyian.

4.2 Kecerdasan musikal

Kecerdasan musikal mudah ditemui dalam diri manusia.(Note 18) Ritme denyut jantung, suara pencernaan makanan dalam rahim ibu, merupakan tanda bahwa manusia sebenarnya sudah dilatih untuk memiliki kecerdasan musikal sejak dari dalam kandungan ibunya. Orang-orang seperti komposer, konduktor, musisi, penyanyi, tukang stem piano, discjockey, kritikus musik, dan sebagainya, memang memiliki kecerdasan musikal karena mereka jelas kelihatan memiliki kepekaan pada pola titinada, melodi, ritme, dan nada. Kecerdasan musikal ini juga mencakup kemampuan meniru suara atau bunyi-bunyian dengan baik atau bahkan sekadar sebagai penikmat musik. Kecerdasan musikal bisa ditingkatkan dengan latihan, misalnya dengan mendengarkan dan merespon bunyi, menikmati bunyi-bunyian dari suara alam dan mempelajarinya, mengembangkan kemampuan memainkan instrumen musik, dan juga dengan mengembangkan minat untuk berkarir di bidang musik.(Note 19)

Karena setiap peserta didik di Sekolah Minggu potensial memiliki kecerdasan musikal, maka seyogianya di dalam kegiatan belajar-mengajar di Sekolah Minggu aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan seni musik digiatkan dengan terarah dan programatik, dengan tujuan untuk mengembangkan kecerdasan ini di dalam diri nara didik. Mereka bernyanyi untuk memuji Tuhan, tetapi juga untuk membuat kecerdasan musikal mereka dirangsang berkembang. Penciptaan nyanyian-nyanyian dan pemilihan lagu-lagu untuk proses belajar-mengajar di Sekolah Minggu harus dengan lebih serius lagi dilaksanakan. Doa-doa yang dinyanyikan perlu sering dilakukan. Anak-anak Sekolah Minggu secara berkala dilatih bernyanyi bersama, membentuk kelompok vokal atau koor anak-anak Sekolah Minggu. Untuk meningkatkan motivasi mereka melatih kecerdasan musikal, dapat diadakan pertandingan-pertandingan kesenian antar kelas sejenis atau dengan kelas dari lain jenjang. Pimpinan Sekolah Minggu dapat merekomendasikan kepada orangtua nara didik yang berbakat di bidang musik dan kesenian untuk sang anak diberi kursus musik. Atau, bila memungkinkan Sekolah Minggu dilengkapi dengan alat-alat atau instrumen-instrumen musik, dan anak-anak yang berminat lebih dalam, dilatih setiap Minggu oleh guru yang mampu mengajar musik. Dalam kesempatan berwisata ke daerah pegunungan, anak-anak Sekolah Minggu diberi kesempatan untuk dapat mendengarkan pelbagai suara alam yang dapat didengar; lalu mereka diminta untuk masing-masing membuat tiruan bunyi dari bunyi-bunyi yang mereka sudah dengar

4.3 Kecerdasan logika matematik

Bila kecerdasan lingustik dan musikal bisa didapati dari pengalaman sehari-hari, maka kecerdasan logika matematika (Note 20) biasanya hanya tampak dalam diri orang-orang tertentu. Walaupun demikian, pola-pola matematika sudah kelihatan sejak dini melalui kemampuan manusia untuk memahami pola-pola pemikiran logis dan abstrak. Kecerdasan logika matematika mencakup kemampuan menghitung, mengukur, dan mempertimbangkan proposisi dan hipotesis, serta menyelesaikan operasi-operasi matematis. Keterampilam mengolah angka dan kemahiran menggunakan akal sehat merupakan bagian dari kecerdasan ini. Latihan untuk mengembangkan kecerdasan ini akan melahirkan seorang pembelajar analitis dan rasionalistis (analytic and common sense learner) yang mampu menggunakan rasio untuk menganalisis apa yang dilihat, diraba, dan dirasakan; serta mencoba menyelesaikan masalah.(Note 21)

Anak kecil mulai bisa memiliki kecerdasan logika matematika ketika anak itu mulai memisahkan dirinya dari obyek-obyek yang diamati dan ketika mulai muncul kesadaran dalam dirinya sendiri untuk mengevaluasi obyek-obyek tersebut. Bahkan seorang anak yang mengalami gangguan perkembangan hampir di semua bidang pembelajaran (idiots savants) bisa juga menunjukkan kecerdasan logika matematika dengan kemampuannya menghitung obyek-obyek di sekitarnya. Kecerdasan logika matematika bisa dirangsang dengan pengenalan terhadap konsep waktu, hubungan sebab akibat, simbol-simbol abstrak, serta berpikir secara matematis, mengumpulkan bukti dan membuat hipotesis; menciptakan rumusan-rumusan baru yang lebih sederhana.(Note 22)

Karena kecerdasan logika matematik potensial tertanam dalam diri para peserta didik, maka ke dalam bahan-bahan pembelajaran Sekolah Minggu aktivitas-aktivitas yang merangsang perkembangan kecerdasan ini seyogianya diintegrasikan, bahkan sudah seharusnya dengan terencana disusun dan dimasukkan ke dalam materi-materi pelajaran. Beberapa contoh pengintegrasian ini dapat diberikan. Misalnya, sehabis guru bercerita tentang Allah sebagai Sang Pencipta langit dan bumi, anak-anak peserta didik ditugaskan untuk menggambarkan Allah yang semacam ini, dengan keharusan memberi warna-warni pada gambar yang mereka sedang buat. Ini adalah suatu upaya untuk mereka dapat mengkongkretisasi suatu obyek yang abstrak, Allah Sang Pencipta. Latihan-latihan mengasah dan menggunakan akal sehat juga dapat dilakukan dengan memberi kepada mereka deskripsi kasus-kasus nyata yang dialami banyak anak. Misalnya, ketika seorang anak sakit, ia, dalam cerita sang guru, tidak mau memakan obat tetapi hanya mau berdoa kepada Tuhan. Guru dapat bertanya, apakah sikap sang anak ini benar? Kalau memakai akal sehat, bagaimana seharusnya sikap anak itu? Biarkan anak-anak mendiskusikan hal ini, antar sesama nara didik, maupun dengan guru mereka.

Anak-anak juga dapat dilibatkan langsung dalam aktivitas pengoperasian logika matematik dalam kegiatan pembelajaran rohani di Sekolah Minggu. Misalnya, dalam cerita penciptaan langit dan bumi menurut pasal-pasal permulaan kitab Kejadian, tanyakanlah pada peserta didik ada berapa obyek atau benda yang Allah sudah ciptakan? Biarkan anak-anak membaca kembali bagian Kitab Suci yang dipakai dan menghitung sendiri jumlah semua obyek ciptaan Allah; hasil hitungan bisa berbeda-beda antara anak yang satu dan anak yang lainnya. Guru mengajak anak-anak mendiskusikan mengapa ada hasil hitungan yang berbeda. Biarkan anak-anak mengajukan alasan-alasan mereka masing-masing. Dengan melakukan ini semua, dalam pembelajaran rohani anak-anak terlibat dalam aplikasi logika matematik, sekaligus dalam adu argumen untuk mempertahankan atau menolak sebuah tesis atau proposisi. Bahan yang sama juga dapat digunakan untuk memperkenalkan kepada anak-anak konsep tentang waktu yang bergerak linier, dari hari pertama penciptaan sampai hari ketujuh, hari perhentian Tuhan. Anak-anak bisa dituntun pada sebuah penemuan bahwa kegiatan Allah mencipta ternyata berjalan dalam ketentuan logika matematik tentang pergerakan penghitungan dari hari pertama, hari kedua dan seterusnya sampai hari ketujuh. Allah tidak bertindak mencipta dengan melompat-lompat, dari hari pertama langsung ke hari keenam, misalnya; tetapi Ia bekerja menurut logika aritmatik linier. Terlihat di sini bahwa kecerdasan logika matematik bisa dikembangkan di Sekolah Minggu, bersamaan dengan pengembangan kecerdasan spiritual (yang tidak eksplisit disebut dalam unsur-unsur teori MI Gardner) yang mengambil bentuk tumbuhnya iman anak-anak kepada Allah yang tidak kelihatan, sang Pencipta langit dan bumi.

4.4 Kecerdasan spasial

Manusia secara eksistensial hidup dalam ruang dan waktu. Kemampuan untuk memahami dirinya dalam ruang dan waktu itu merupakan bagian dari kecerdasan spasial.(Note 23) Kecerdasan spasial sangat menekankan kemampuan manusia untuk berpikir dalam tiga dimensi. Kecerdasan spasial memungkinkan manusia untuk menerjemahkan apa yang dibayangkannya bahkan memodifikasi imajinasinya itu dalam suatu dimensi. Di sini manusia mampu menggambarkan keberadaan dirinya sebagai bagian dari ruang dengan obyek-obyek yang mengitarinya. Daya imajinasi dan visualisasi merupakan bagian penting dari kecerdasan spasial. Dalam mengembangkan kecerdasan ini, anak didik diarahkan untuk menjadi pembelajar imajinatif (imaginative learner) yang menekankan bagaimana nara didik mengungkapkan daya imajinatif seluas-luasnya.(Note 24) Usaha pengenalan dan penggambaran obyek, serta kemampuan berpikir tentang relasi-relasi ruang dan kemampuan membayangkan suatu gerakan dalam konfigurasi tertentu, merupakan aspek-aspek kecerdasan spasial, yang biasanya dimiliki oleh seorang arsitektur, pelaut, pilot, pelatih sepakbola, dan sebagainya. Kemampuan meningkatkan kecerdasan spasial bisa dilakukan sedini mungkin dengan belajar mengamati benda-benda dalam berbagai bentuk, menemukan cara-cara untuk keluar dari suatu ruangan hanya dengan membayangkannya, menggambarkan apa yang dibayangkan, menikmati gambar-gambar abstrak, belajar dengan menggunakan diagram, menyusun atau menggabungkan bentuk-bentuk bangun tertentu dan menghasilkan bentuk bangun yang baru.(Note 25)

Dengan asumsi bahwa kecerdasan spasial potensial dimiliki setiap peserta didik, maka sudah pada tempatnya jika dalam proses pendidikan di Sekolah Minggu bahan-bahan pembelajaran dan kegiatan-kegiatan di dalamnya diarahkan untuk menumbuhkembangkan kecerdasan ini dalam diri nara didik. Peserta didik dapat diminta oleh guru untuk membayangkan ruang kelas mereka, dengan semua benda yang ada, entah di dinding atau pun di ruangan mereka sendiri, termasuk diri mereka sendiri, atau juga benda-benda yang dalam bayangan mereka ada di luar ruangan kelas. Lalu, sesudah mereka diberi kesempatan membayangkan, mintalah mereka untuk menggambarkan segala hal yang telah muncul dalam bayangan mereka tadi. Tekankan, supaya mereka memberi tanda di mana mereka masing-masing berada dalam gambar yang mereka telah buat. Lalu, ajak anak-anak untuk mendiskusikan persamaan dan perbedaan bayangan dan gambar yang mereka masing-masing telah buat. Mengapa ada perbedaan? Biarkan anak-anak mengajukan argumentasi mereka sendiri-sendiri.

Atau, kepada mereka dapat disodorkan gambar sebuah bangunan gereja yang berdiri berdampingan dengan gambar bangunan-bangunan sebuah masjid, kelenteng atau wihara dan pura. Tanya kepada mereka, gambar bangunan apa saja yang mereka telah lihat; apakah di tempat mereka tinggal juga ditemukan hal yang sama; mengapa bangunan-bangunan suci itu dapat berdiri berdampingan; apakah antar penganut agama yang berbeda, orang bisa hidup damai satu sama lain; ataukah, bisa terjadi sengketa dan percekcokan antar umat beragama yang berbeda-beda. Pertanyaan-pertanyaan ini akan membawa peserta didik pada dimensi-dimensi ruang dan waktu; sekaligus juga menuntun mereka kepada hal-hal rohani, seperti hidup beribadah kepada Tuhan yang mengharuskan orang untuk hidup berdamai dengan sesamanya yang berlainan agama. Kecerdasan spasial dikembangkan bersama dengan kecerdasan religius spiritual.

4.5 Kecerdasan gerak tubuh

Kemampuan manusia untuk menggerakkan alat-alat tubuhnya sesuai dengan fungsinya, bahkan mampu mengolah gerakan tubuh yang menarik, merupakan kemampuan yang dihasilkan oleh kecerdasan gerak tubuh.(Note 26) Kecerdasan gerak tubuh ini dibutuhkan manusia dalam kegiatan sehari-hari baik untuk berolahraga, bekerja, santai, dan melakukan kegiatan apa saja. Secara khusus mereka yang berprofesi sebagai atlet, penari, pemain akrobat, ahli bedah, dan sebagainya, adalah orang-orang yang mampu mengembangkan gerak tubuh secara optimal menjadi suatu gerakan yang dinamis dan bisa dinikmati. Kecerdasan gerak tubuh ini menuntut koordinasi antara otak dan tubuh. Ada beberapa cara untuk melatih kecerdasan gerak tubuh sedini mungkin, yaitu: mengenal lingkungan dan menjelajahinya dengan sentuhan, bermain ketangkasan peran yang memungkinkan menggunakan gerak tubuh sebagai simbol, mendemonstrasikan kemampuan mengolah gerak tubuh dalam bentuk tarian, senam, olahraga, dan lainnya, mengerti dan mengetahui standar hidup yang sehat, serta menciptakan bentuk-bentuk baru bagi suatu gerakan.(Note 27)

Dengan anggapan bahwa semua manusia yang sehat jasmaninya potensial memiliki kecerdasan gerak tubuh, maka tepatlah jika dalam kegiatan belajar-mengajar di Sekolah Minggu aktivitas-aktivitas terarah untuk meningkatkan kecerdasan ini diberi tempat. Guru-guru Sekolah Minggu dapat melatih anak-anak menari secara berkala. Atau, membawa mereka dalam posisi berbaris, keluar dari ruang Sekolah Minggu untuk meninjau dan melihat-lihat lingkungan sekitar lokasi Sekolah Minggu mereka. Atau, anak-anak diminta untuk memerankan Daud yang sedang bertempur melawan Goliat, untuk menunjukkan kepada anak-anak bahwa kalau Tuhan menyertai mereka, mereka akan sanggup untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang sulit dan berat sekalipun, karena itu mereka tidak boleh mengeluh jika guru atau orangtua di rumah meminta bantuan mereka untuk mengerjakan sesuatu. Atau, para peserta didik dibawa beranjangsana ke sebuah pabrik mainan anak-anak; dan di sana mereka diminta untuk melihat-lihat dan mencatat benda-benda apa saja yang menarik perhatian mereka masing-masing.

4.6 Kecerdasan personal

Manusia sebagai individu memiliki kecerdasan personal.(Note 28) Kecerdasan ini terkait dengan bagaimana manusia memahami perasaan, suasana hati, keinginan, serta temperamen orang lain. Kecerdasan semacam ini dikategorikan sebagai kecerdasan interpersonal. Manusia sebagai individu, dalam kategori kecerdasan interpersonal, membangun relasi dengan apa yang ada di luar dirinya, yaitu individu-individu lainnya, sehingga kecerdasan semacam ini memungkinkan dirinya untuk memiliki ikatan dan interaksi dengan manusia lain, bahkan mampu menjaga hubungan-hubungan sosial. Kecerdasan seperti ini berguna untuk memotivasi orang lain, serta mengenal dan menghargai orang lain sebagai bagian dari dirinya, mempengaruhi orang lain, berempati terhadap orang lain, serta mampu bekerja sama dengan orang lain dalam suatu kelompok. Para guru, pemimpin politik, ulama, konselor, psikolog, pastor dan pendeta adalah orang-orang yang secara khusus memiliki kecerdasan interpersonal. Kecerdasan interpersonal secara lahiriah sudah tampak dalam hubungan khusus orangtua-anak yang kemudian dikembangkan dalam relasi dengan orang lain. Mengenal dan memahami diri dalam relasi dengan orang lain perlu ditanamkan kepada anak-anak untuk meningkatkan kecerdasan interpersonal. Di samping itu, perlu juga diajarkan keterampilan berkelompok, bagaimana menghargai perbedaan-perbedaan dalam kelompok, menyesuaikan diri dengan orang yang berbeda dari dirinya, serta perlu juga ditingkatkan upaya-upaya kreatif untuk membentuk proses sosial yang selalu baru.(Note 29)

Kategori lain dari kecerdasan personal adalah kecerdasan intrapersonal. Kecerdasan semacam ini merupakan kemampuan melihat pemikiran dan perasaan sendiri yang terus dibangun untuk menemukan jati diri manusia sebagai individu. Pertanyaan “Siapakah Aku?” akan mudah dijawab dengan kemampuan manusia menyelami dirinya sendiri, mengobservasi bahkan secara sadar bergaul dengan batinnya sendiri sampai manusia itu menemukan siapa dirinya sesungguhnya. Biasanya orang yang memiliki kecerdasan intrapersonal adalah orang yang menyadari keadaan emosionalnya, mampu menemukan jalan keluar untuk mengekspresikan perasaan dan pemikirannya, bisa mengembangkan model diri yang akurat, termotivasi untuk mengidentifikasi dan memperjuangkan tujuannya, sanggup membangun dan hidup dengan satu nilai etik (agama), bekerja mandiri, memiliki rasa ingin tahu yang kuat tentang makna kehidupan, relevansi, dan tujuannya, berusaha mengaktualisasikan diri dengan kemampuan untuk memberdayakan orang lain, mengatur tujuan personalnya, mencari dan memahami pengalaman individualnya, serta mendapatkan wawasan tentang kompleksitas diri dan eksistensi manusia.(Note 30) Cara-cara seperti itu bisa diperkenalkan kepada anak-anak dengan mencoba mengajak anak-anak memahami dan mengenal diri sendiri.

Meyakini bahwa setiap orang oleh Tuhan diberi potensi untuk cerdas dalam membangun hubungan personal, interpersonal dan intrapersonal, maka dalam kegiatan pengajaran dan pendidikan di Sekolah Minggu sudah pada tempatnya jika guru-guru bekerja keras untuk ikut membantu menumbuhkan kecerdasan jenis ini dalam diri anak-anak asuhan mereka. Banyak hal yang bisa dengan programatis dilakukan di Sekolah Minggu. Misalnya, dalam suatu kegiatan belajar-mengajar yang mengambil tema “Kenalilah Dirimu”, guru dapat bertanya, apa cita-cita mereka; mereka mau menjadi apa kalau sudah dewasa. Bandingkanlah jawaban anak yang satu dengan anak yang lain, lalu diskusikan bersama mereka kemungkinan-kemungkinan yang bisa mereka lakukan sejak sekarang untuk dapat mencapai cita-cita mereka. Dalam rangkaian pembelajaran tema “Kenalilah Sesamamu”, pengurus Sekolah Minggu juga dapat membuat program perkunjungan ke panti-panti asuhan, agar anak-anak Sekolah Minggu mengenal juga dunia anak-anak yang dibesarkan di panti-panti asuhan. Atau, kalau ada seorang teman mereka yang sedang sakit dan dirawat di rumah sakit, aturlah kegiatan insidental perkunjungan yang memungkinkan mereka untuk menjenguknya dan berdoa bersama-sama di sana.

5. Faktor-faktor Lain Yang Penting Diperhatikan

Uraian di atas tentang unsur-unsur teori MI dan sedikit contoh aplikasinya dalam kegiatan pendidikan di Sekolah Minggu telah memperlihatkan bagaimana teori MI bisa memberi sumbangan penting bagi penyusunan suatu kurikulum pendidikan yang berbasis pada pengembangan kecerdasan-kecerdasan segenap nara didik, supaya anak-anak didik tumbuh cerdas bertahap dalam puspa dimensi, sekaligus cerdas secara spiritual, maksudnya, beriman kepada Tuhan. Penting ditekankan, kurikulum Sekolah Minggu seyogianya disusun bukan hanya menurut atau berdasarkan tema-tema besar alkitabiah dan gerejawi, tetapi juga hendaknya dirancang dengan memasukkan secara terintegratif aplikasi-aplikasi keenam perspektif tentang kecerdasan manusia sebagaimana telah dipaparkan secara inspiratif oleh Howard Gardner.

Tentu saja, teori MI tidak memberi sumbangan dalam menentukan struktur kurikulum dan metode mengajar. Teori MI membantu pendidik untuk menyusun satuan-satuan bahan pelajaran yang multidimensional. Untuk efektivitas kegiatan pendidikan di Sekolah Minggu, masih ada sekian faktor lain yang harus diperhatikan dan diterapkan dalam penyusunan kurikulum, yang akan menghasilkan suasana belajar yang menyenangkan, tidak membosankan, tetapi mendorong setiap nara didik untuk tumbuh menjadi pelajar yang dinamis (dynamic learner).(Note 31)

Kurikulum Sekolah Minggu biasanya mencakup empat unsur pembentuk struktur kurikulum: materi kurikulum, yaitu panduan kurikulum (curriculum guide), cakupan kurikulum (areas guide), bahan kurikulum (resource units), dan satuan belajar mengajar (teaching learning units).(Note 32) Ada empat faktor dasariah lainnya yang perlu dimasukkan ke dalam pertimbangan-pertimbangan sebelum kurikulum disusun.

Pertama, konteks. Semua yang berkaitan dengan nara didik menjadi penting untuk diperhatikan, yaitu golongan usia, perkembangan fisik, mental, sosial, dan spiritual; faktor-faktor kultural juga sangat penting dipertimbangkan. Kedua, ruang lingkup, yaitu segala sesuatu yang berkaitan dengan fokus dan perhatian kurikulum. Hal ini biasanya dipetakan dalam tiga hal, yaitu: relasi manusia dengan Tuhan, relasi manusia dengan sesamanya, dan relasi manusia dengan alam semesta.(Note 33)

Ketiga, tujuan, yaitu arah dan sasaran yang hendak dicapai oleh kurikulum. Tujuan ini meliputi kemampuan mendengarkan firman Allah dan melakukannya dalam iman dan kasih, kemampuan mencari dan menemukan pengalaman-pengalaman baru dalam konteks firman Allah, serta kemampuan untuk memiliki tanggung jawab personal dan sosial di hadapan Tuhan.(Note 34) Ke dalam tujuan kurikulum inilah aspek-aspek teori MI, seperti sudah dikatakan di atas, harus diintegrasikan dalam setiap bahan atau unit pembelajaran.

Keempat, proses. Model pendekatan pembelajaran yang menekankan “proses” penting untuk dilakukan; anak tidak langsung mendadak “jadi” seperti yang diharapkan tujuan kurikulum. Perlu proses yang lama dan sinambung. Metode partisipatif menjadi bagian penting pada bagian ini tanpa harus mengabaikan kondisi nyata bahwa setiap anak berbeda dan memiliki kecerdasan masing-masing yang menonjol, sehingga memerlukan cara-cara khusus untuk menanganinya. Tepatlah apa yang dikemukakan Irish Cully: People learn when they feel themselves to be participants in the events.(Note 35)

Kelima, pengorganisasian, yakni adanya koordinasi yang baik antar unit kurikulum, seperti tujuan umum kurikulum, bahan atau materi pembelajaran dan tujuan-tujuannya, pendidik dan nara didik, metode pembelajaran, dan sebagainya. Semua unsur ini harus dikoordinasikan dengan baik supaya tahap-tahap pendidikan di Sekolah Minggu mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai evaluasi dan lainnya, bisa dipersiapkan dan diatur sedemikian rupa sehingga tujuan pendidikan tercapai.

Faktor golongan usia dan perkembangan mental psikologis anak harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh supaya bahan ajar dapat klop dengan kondisi perkembangan anak. Penerapan teori MI juga harus memperhatikan faktor ini dengan sungguh-sungguh. Umumnya dibedakan empat kategori atau golongan usia dan perkembangan mental. Kategori pertama adalah Kelas Indria (4-6 tahun). Pada Kategori Indria, aktivitas fisik anak sangat agresif dan ia berusaha mengeksplorasi kondisi sekitarnya dengan panca indra yang memang sedang berkembang. Perkembangan mentalnya sudah mencapai tahap “ingin tahu” (curious) yang sangat besar, dengan imajinasi yang kuat serta kesukaan mengutak-atik sesuatu yang dilihatnya menarik dan baru. Secara sosial, dunia bagi Kelas Indria adalah “aku”, sekalipun mereka tetap bermain dengan orang lain. Dan pada tahap perkembangan spiritual, doktrin kekristenan masih sulit dipahami, namun pengajaran sikap dan sifat yang baik bisa dilakukan, karena pada kelas ini nara didik mudah sekali meniru apa yang didengar dan dilihat.

Kategori kedua, adalah Kelas Pratama (7-9 tahun). Aktivitas fisik masih memerlukan kegiatan yang aktif, seperti berlari, bermain, melompat, memanjat, dan sebagainya. Biasanya perkembangan mental ditandai dengan sikap spontan, bertindak tanpa dipikirkan lebih dulu dan kegiatan belajar seperti membaca, menulis, berhitung mulai diminati. Sekalipun tidak berbeda jauh dengan Kelas Indria dalam hal egosentrisme, kategori ini lebih maju karena anak mulai menghargai kepentingan orang lain. Secara spiritual, pengenalan terhadap sikap dan sifat yang kristiani bisa dilakukan dengan mengajarkan konsep-konsep yang dekat dengan mereka, seperti penekanan bahwa “Yesus adalah teman yang baik”. Pada tahap ini, nara didik sudah melihat pentingnya berdoa sebagai bagian dari apa yang dilakukan oleh orang Kristen. Membaca Alkitab pun bukan sesuatu yang sulit bagi kelompok ini.

Kategori ketiga, terakhir, adalah Kelas Madya (10-12 tahun). Pada tahap ini secara fisik pertumbuhan mulai melambat, dan bisa terlihat anak perempuan lebih cepat pertumbuhannya dibandingkan anak laki-laki. Kecenderungan bermain dengan sesama teman sejenis mulai kelihatan, dan anak mulai tertarik dengan kegiatan tertentu yang bisa dianggap sebagai hobi. Persepsi terhadap dunia menjadi lebih nyata, tidak lagi terlalu suka dengan dunia fantasi. Kecenderungan anak suka pada semua yang berada di luar dirinya, seperti alam semesta, ilmu pengetahuan, mesin-mesin, dan permainan yang lebih menggunakan kecerdasan dan ketangkasan; anak lebih tertarik pada permainan yang mengandung unsur rivalitas. Mulai mengidolakan seseorang berdasarkan minat dan apa yang disukainya. Secara sosial lebih memilih berteman dengan teman sejenis, dengan perhatian pada kegiatan atau aktivitas yang sama berdasarkan persamaan hobi. Rasa setia kawan mulai tumbuh, bahkan anak cenderung mengabaikan orang tua dan guru. Pengertian konsep benar dan konsep salah sudah dipahami pada kategori ini sehingga perkembangan spiritual bisa diukur dari bagaimana mereka mengerti dan memahami kebenaran firman Tuhan dan mulai menempatkan diri dalam kepercayaan kepada Tuhan.(Note 36)

6. Penutup

Teori MI telah memberikan suatu perspektif yang lebih memberi pengharapan dan menantang dalam kegiatan pendidikan anak di Sekolah Minggu. Dengan teori ini, setiap anak dengan segala keunikan dan tingkat serta jenis kecerdasan masing-masing menjadi fokus utama kegiatan belajar dan mengajar. Dengan mengaplikasikan teori MI dalam penyusunan kurikulum Sekolah Minggu, dan dengan memperhatikan sungguh-sungguh pokok-pokok lain yang diberikan ilmu psikologi perkembangan dan teori penyusunan sebuah kurikulum, diharapkan kegiatan belajar-mengajar di Sekolah Minggu dapat lebih mengangkat kemampuan anak didik untuk mengembangkan sendiri kecerdasan masing-masing, di mana para guru berperan sebagai pendamping, fasilitator dan stimulator semua nara didik. Anak-anak akan menjadi cerdas sesuai dengan jenis-jenis kecerdasan yang dimiliki, dan pada waktu yang bersamaan mereka dapat hidup beriman kepada Allah dalam Yesus Kristus. Diharapkan, di dalam berkembangnya kecerdasan-kecerdasan yang anak miliki, anak akan juga menemukan peran Allah yang telah datang dalam diri Yesus Kristus.



Notes

**) Tulisan ini hasil penulisan ulang Ioanes Rakhmat atas karya Mulyanto.

1) James D. Smart, The Teaching Ministry of the Church (Philadelphia: Westminster, 1954) 11.

2)Tentang ini, lihat Howard P. Colson & Raymond M. Rigdon, Understanding Your Church’s Curriculum (Nashville: Broadman, 1969) 11-16.

3) Clement Suleeman, Pendidikan Agama Kristen dan Pembinaan Warga Gereja. Pidato Dies Natalis ke-46 Sekolah Tinggi Teologi Jakarta (27 September 1980), 4.

4) E. G. Homrighausen & I.H. Enklaar, Pendidikan Agama Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999) 89.

5) Clarence H. Benson, History of Christian Education (Chicago: Moody, 1943) 121-122.

6) Suleeman, “Pendidikan Agama Kristen,” 4.

7) Seperti diuraikan Robert R. Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997) 396.

8) Boehlke, Sejarah, 398-421.

9) Th. van den End, Harta dalam Bejana: Sejarah Gereja Ringkas (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003) 293; lihat juga Leatha Humes dan Lieke Simanjutak, Penuntun Guru PAK Sekolah Minggu dan Sekolah Dasar (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1998) 10.

10) Humes, Penuntun Guru, 10

11) Boehlke, Sejarah, 775.

12) Boehlke, Sejarah, 778.

13) Boehlke, Strategi Pendidikan Kristen di Indonesia (Jakarta: PGI, 1989) 37-38.

14) Demikian penilaian Thomas Armstrong terhadap Gardner; lihat Armstrong, Setiap Anak Cerdas: Panduan Membantu Anak Belajar dengan Memanfaatkan Multiple Intelligences-nya (Jakarta: Gramedia, 2003) 18.

15) Howard Gardner, Frames of Minds: The Theory of Multiple Intelligences (New York: Basic Books, 1983) 60-61.

16) Lengkapnya, lihat Gardner, Frames, 73-98.

17)Lihat uraian Linda, Bruce Campbell, dan Dee Dickenson, Multiple Intelligences: Metode Terbaru Melesatkan Kecerdasan (Depok: Inisiasi, 2002) 11-12.

18) Tentang ini, lihat Gardner, Frames, 99-127.

19) Campbell, Multiple Intelligences, 147.

20) Gardner, Frames, 128-169.

21) Lihat Marlene D. LeFever, Learning Styles: Reaching Everyone God Gave You to Teach (Colorado: David C. Cook, 1995) 20-21.

22) Campbell, Multiple Intelligences, 41.

23) Gardner, Frames, 170-204.

24) Lihat Marlene D. LeFever, Learning Styles, 20-21.

25) Campbell, Multiple Intelligences, 109.

26) Gardner, Frames, 205-235.

27) Campbell, Multiple Intelligences, 75.

28) Gardner, Frames, 237-275.

29) Campbell, Multiple Intelligences, 173

30) Campbell, Multiple Intelligences, 203.

31) Marlene D. LeFever, Learning Styles, 20-21.

32) D. Campbell Wyckoff, Theory and Design of Christian Education (Philadelphia: The Westminster, 1961) 185-204.

33) Bnd. The Church’s Educational Ministry: A Curriculum Plan. The Work of The Cooperative Curriculum Project (Missouri,: The Bethany, tth.) 15.

34) Irish Cully, Planning and Selecting Curriculum for Christian Education (Valley Forge: Judson, 1983) 65.

35) Cully, Christian Child Development (San Fransisco: Harper & Row, 1979) 137.

36) Berdasarkan kategorisasi Doris Blattner, Bagaimana Mengajar Anak Madya (Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 1986) 5-9.

No comments:

Post a Comment